Translate

Selasa, 29 Oktober 2013

karakter pendidik PAUD

 


MENJADI seorang guru PAUD yang baik, guru harus mampu mempelajari proses pembelajaran yang menarik, familiar dengan teknologi. Ia juga harus mampu mengevaluiasi hasil belajar anak. Selain pedagogi, guru PAUD juga harus memiliki kompetensi sosial  yakni kemampuan berempati, menjunjung tinggi nilai sosial pada lingkungan, memiliki kontrol diri dan nilai diri yang benar.
Demikian dikatakan Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas PPO NTT Kornelis Wadu, pemateri dalam seminar yang dilaksanakan Sekolalah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pedidikan (STKIP) Penabur di aula STKIP Penabur, Sabtu (20/4). Seminanar dengan tema Menjadi Guru Pendidik Anak Usia Dini (PAUD) yang Profesional dilaksanakan dalam upaya meningkatkan profesionalime guru PUAD.
Kornelis Wadu dalam materinya Kebijakan Pemerintah NTT dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru PAUD menjelaskan, sejak tahun 2008, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mencanangkan PAUD yang mengacu pada  Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Pendidikan PAUD yang mengurus pendidikan anak dari umur 0-6 tahun pada 21 kabupaten/kota.
Upaya peningkatan kompetensi guru PAUD harus memiliki kompetensi pedagogi seperti  memiliki latarbelakang pendidikan yang memadai, memahami psikologi anak, kemampuan untuk membuat bahan ajar, yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Di samping itu, perlu ada kompetensi profesionalisme yang didorong  oleh semangat untuk mengembangkan diri melalui belajar, dapat dipercaya, tepat waktu, tidak pilih kasih, dan menghargai orang lain. Sedangkan kompetensi lainnya adalah kepribadian yang sangat diperlukan sehingga dengan kepribadian baik dapat menjadi teladan untuk anak-anak.
Madolina Dupe, pemateri lainnya dalam materinya Mempersiapkan Anak Usia Dini Menuju Sekolah Dasar menjelaskan, anak-anak harus diberikan persiapan mental, motorik, kemampuan bersosialisasi, dan kemampuan akademik. Persipan mental perlu dilakukan agar anak-anak bisa percaya diri pada kemampuannya. “Persiapan mental memberikan kemandirian, sehingga anak-anak bisa melakukan apa yang harus dilakukan dan memampukan untuk bisa beradaptasi  dengan linkungan baru, teman baru, dan juga sistem belajar,” katanya.  (gnb/H-1)


Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Kawan, jika saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia.
Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?